ARTIKEL Kebijakan Akreditasi Jurnal Ilmiah

ARTIKEL Kebijakan Akreditasi Jurnal Ilmiah

BangunBanten.Com- Karya ilmiah merupakan karya tulis yang menyajikan gagasan, deskripsi, atau pemecahan masalah secara sistematis, disajikan secara objektif dan jujur, dengan menggunakan bahasa baku, serta didukung oleh fakta, teori dan/atau bukti-bukti empirik, tidak banyak berguna jika tidak disebarluaskan.

Karya tulis ilmiah adalah semua bentuk karangan berupa buku, artikel dalam buku atau jurnal, skripsi, tesis, disertasi dan laporan yang disajikan secara sistematis, cermat, tidak emotif, tidak persuasif, kata-katanya mudah diidentifikasi, tidak argumentatif, tulus, tidak mengejar kepentingan pribadi dan semata-mata memberi informasi.

Publikasi ilmiah berperan penting dan menjadi salah satu indikator kemajuan suatu negara. Dalam meningkatkan jumlah publikasi ilmiah Indonesia, perguruan tinggi mewajibkan calon lulusan S-1, S-2, dan S-3 di Indonesia untuk memublikasikan karya ilmiah mereka.

Di sisi lain, untuk meningkatkan jenjang jabatan, dosen di perguruan tinggi dan peneliti di lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) wajib memublikasikan karya ilmiah hasil penelitiannya melalui buku, prosiding, dan jurnal ilmiah, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dosen, peneliti, dan mahasiswa wajib memublikasikan hasil karyanya dalam bentuk karya ilmiah yang bermutu. Ukuran karya ilmiah yang bermutu dapat diukur dari pengakuan yang diberikan oleh pihak luar yang netral dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, sangatlah wajar apabila sebuah karya ilmiah bermutu harus melewati proses penelaahan (review) yang ketat oleh mitra bestari (peer review) dan diterbitkan oleh penerbit ilmiah yang berwibawa. Undang-Undang Nomor 14 tahun 2015 tentang Guru dan Dosen pasal 60 menyatakan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, dosen antara lain wajib melakukan publikasi ilmiah sebagai salah satu sumber belajar.

Peraturan menristekdikti Nomor 20 tahun 2017 tentang Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor mewajibkan dosen dengan jabatan akademik lektor kepala dan profesor untuk melakukan publikasi ilmiah. Kewajiban melakukan publikasi ilmiah ini adalah kewajiban dosen sebagai seorang ilmuwan yang wajib mengembangkan ipteks dan menyebarluaskannya kepada masyarakat. Peraturan tersebut lebih menekankan kewajiban publikasi ilmiah ini bagi dosen yang memiliki jabatan akademik tinggi, yaitu lektor kepala dan guru besar.

Hal tersebut dilakukan karena penanganan pengelolaan karier jabatan akademik lektor kepala dan guru besar berada di bawah tanggung jawab langsung kementerian ristekdikti di tingkat pusat. Berdasarkan hal tersebut, kebutuhan jurnal untuk dosen dan peneliti sangat besar.

Data kemenristekdikti tahun 2017 didapat bahwa dengan jumlah dosen 260 ribu dan peneliti 10.000 maka dibutuhkan sekitar 8 ribu jurnal terakreditasi nasional dan 150 jurnal bereputasi internasional. Namun di sisi lain jumlah jurnal terakreditasi nasional tahun 2017 hanya 530 jurnal terdiri dari akreditasi kemenristekdikti 33 jurnal dan LIPI 197 jurnal.

Karya tulis ilmiah di lingkungan perguruan tinggi mengemban dua misi, yaitu: 1. Wahana untuk melatih para mahasiswa mengungkapkan pikiran-pikirannya secara sistematis, tertib dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 2. Memberikan sumbangan pada pihak ilmu pengetahuan. Karya tulis ilmiah tersebut untuk dapat dipertanggungjawabkan dalam forum-forum diskusi ilmiah harus diterbitkan ke dalam jurnal ilmiah.

Jurnal ilmiah adalah bentuk pemberitaan atau komunikasi yang memuat karya ilmiah dan diterbitkan secara periodik dalam bentuk elektronik dan/atau tercetak. Jurnal ilmiah dapat diterbitkan oleh perguruan tinggi, organisasi profesi, kementerian, lembaga pemerintah nonkementerian, lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga pendidikan, perusahaan penerbitan, dan/atau badan usaha.

Jurnal ilmiah dilakukan akreditasi dengan tujuan untuk meningkatkan mutu dan relevansi jurnal ilmiah, dan daya saing Indonesia. Proses akreditasi jurnal ilmiah dilakukan secara elektronik melalui jejaring teknologi informasi dan komunikasi (Kaleidoskop Risbang, 2018).

Saat ini proses akreditasi jurnal ilmiah dilakukan melalui sistem Akreditasi Jurnal Nasional (Arjuna) secara online. Tanggal 21 Maret 2018, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menetapkan Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 9 Tahun 2018 tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah. Dalam peraturan tersebut, hasil akreditasi jurnal ilmiah terdiri atas enam peringkat, mulai dari Sinta 1 sampai dengan Sinta 6.

Peringkat akreditasi jurnal ilmiah berlaku untuk masa 5 (lima) tahun. Hasil akreditasi jurnal ilmiah dimuat dalam sistem pengindeks ilmu pengetahuan dan teknologi yang saat ini dimuat dalam Science and Technology Index (Sinta). Peringkat akreditasi jurnal dapat dievaluasi secara berkala paling sedikit satu kali dalam lima tahun.

Apabila berdasarkan hasil evaluasi berkala mutu jurnal ilmiah menunjukkan peningkatan, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan dapat menaikkan peringkat akreditasi jurnal ilmiah sebelum berakhirnya masa berlaku akreditasi. Namun jika berdasarkan hasil evaluasi terjadi penurunan mutu jurnal ilmiah, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan dapat memberikan teguran tertulis, menurunkan peringkat, dan/atau mencabut status akreditasi jurnal ilmiah sebelum berakhirnya masa berlaku akreditasi.

Akreditasi jurnal ilmiah dilakukan oleh tim akreditasi jurnal ilmiah. Pengarah, ketua, dan sekretaris tim akreditasi jurnal ilmiah ditetapkan oleh Menteri Ristekdikti. Anggota tim berasal dari instansi Pembina karier dosen, instansi Pembina karier peneliti, dan instansi pembina karier lainnya.

Dalam menjalankan tugasnya, tim akreditasi jurnal ilmiah dibantu oleh asesor yang diangkat dan diberhentikan oleh Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan. Menurut Dirjen Penguatan dan Pengembangan (2018), akreditasi jurnal hanya dilakukan oleh kemenristekdikti. Hasil akreditasi jurnal ilmiah yang telah ditetapkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) diakui dan diterbitkan sertifikat oleh kemenristekdikti sepanjang masih berlaku masa akreditasinya.

Hasil akreditasi jurnal ilmiah digunakan oleh tim penilai angka kredit jabatan fungsional untuk melakukan penilaian substansi artikel. Oleh karena itu, diperlukan suatu terobosan kebijakan dan fasilitasi anggaran untuk memfasilitasi kebutuhan akan jurnal nasional terakreditasi dan bereputasi internasional. (Penulis adalah Rektor Universitas Banten Jaya)*

sumber :https://www.kabar-banten.com/kebijakan-akreditasi-jurnal-ilmiah/