Bunyi dalam Sunyi, Sepotong Cerita Si Balerina dan Peracik Kopi Tuli

Bunyi dalam Sunyi, Sepotong Cerita Si Balerina dan Peracik Kopi Tuli

BangunBanten.com - Jakarta tak pernah senyap, selalu bising, sehingga menjadi tuli di ibu kota adalah ironi. Namun dalam keheningan, mereka justru bisa khusyuk bertafakur, untuk menorehkan kata-kata yang tak mudah dilupakan: melalui karya, kaum tuli berbicara.

SEMBURAT senja belum beranjak kelam di langit selatan Jakarta, tatkala Mufi berupaya menembus kemacetan kendaraan di jalan raya.Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB, Jakarta semakin berisik oleh deru kendaraan dan langkah kaki orang-orang yang pulang kerja.Hasna Mufidah Bani Mostavan, nama lengkapnya. Ia mengendarai mobil dari kantornya di kawasan Kuningan menuju One Belpark Mall yang berada di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan.

Sepekan sebelumnya, melalui pesan singkat WhatsApp, ia menjanjikan Erick—jurnalis Suara.com—sebuah sesi wawancara di mal itu, persisnya dalam kedai kopi modern.

Sekitar pukul 18.20 WIB, Mufi yang mengenakan baju putih bercorak garis oranye tiba bersama temannya, Damaz.

Mufi adalah gadis 27 tahun dan tuli sejak lahir. Ia terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, hanya dia yang tuli di keluarganya.

Ibu dan ayahnya berprofesi sebagai dokter. Ia tinggal bersama orang tuanya di Cinere, Depok, Jawa Barat.

Erick memberikannya sebuah pensil dan sejumlah kertas putih.

Percakapan keduanya di tengah keramaian kedai itu kebanyakan berlangsung secara tertulis dalam lembaran kertas. Sesekali, komunikasi dilakukan melalui WhatsApp.

a

Hasna Mufidah Bani Mostavan [Suara.com/Erick Tanjung]

Mufi mulai menuliskan bahwa keterbatasan dengar dan berbicara, tak menjadi penghalang untuk berkarier seperti orang lain. Bahkan, ia bisa berprestasi dengan bakat yang dimilikinya.

Ia meraih gelar sarjana desainer interior dari Universitas Bina Nusantara. Selepas berkuliah, dia bekerja sebagai 3D Desainer di sebuah perusahaan swasta.

“Tapi aku suka menari. Itu hobiku sejak kanak-kanak,” tuturnya. Dalam tari, terutama balet, ia melepaskan emosi, memecah keheningan dunianya.

Kesukaannya itulah yang mengantar Mufi menjadi ketua dari divisi tari Teater Tujuh. Sanggar Teater Tujuh adalah wadah bagi kaum artisan berkebutuhan khusus, terutama insan tuli.

Teater Tujuh diprakarsai aktor senior Ray Sahetapy dan putranya yang juga berkebutuhan khusus, Surya Sahetapy.

Dua tahun silam, 2017, adalah kali pertama Mufi berada di tengah panggung balet bersama teman-temannya.

Ia berkolaborasi dalam acara CandoDance Indonesia, bertajuk ”An Equal Chance to Dance with the World”. CandoDance Indonesia adalah upaya kolaboratif Ballet.id dengan British Council.

Setelah menjalani serangkaian audisi, Mufi dan keempat balerina tuli lainnya berkesempatan menari bersama Candoco Dance Company dari Inggris.

Mufi sendiri dilatih oleh Mirjam Gurtner dan Tanja Erhart, penari dari Candoco, dan mementaskan tari balet kontemporer dalam 2nd Indonesian Ballet Gala, 23 September 2017.

“Itu adalah pengalaman pertama saya pentas. Sangat luar biasa, karena diberi kesempatan belajar, saling terbuka,” kata Mufi.

Hobinya menari sejak kanak-kanak itu sempat terhenti saat kuliah. Sebab, ketika itu, Mufi merasa tidak tahu arah perjalanan hidupnya entah ke mana.

Sempat ia merasa, menjadi tuli di Jakarta adalah berarti keterasingan. Dilanda kesepian, pikirannya membuncah.

Baru belakangan ia berpikir, masalahnya adalah kesulitan berkomunikasi dengan orang lain. Ia memahami bahasa. Ia mengerti aksara. Tapi orang lain belum tentu mengerti caranya berbicara: melalui isyarat.

Hasna Mufidah Bani Mostavan, di One Belpark Mall yang berada di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan. [Suara.com/Erick Tanjung]

Hasna Mufidah Bani Mostavan, di One Belpark Mall yang berada di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan. [Suara.com/Erick Tanjung]

Refleksinya itu mendorong Mufi membantu kelompok belajar bahasa isyarat untuk masyarakat, agar akses berkomunikasi bagi orang-orang tuli lebih mudah.

Awal 2018, Mufi bergabung dengan organisasi Gerkatin Kepemudaan. Gerkatin adalah akronim dari Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu—organisasi sosial yang memperjuangkan hak-hak disabilitas terutama tuli di segala bidang.

Melalui organisasi itulah, Mufi terpilih menjadi wakil Indonesia dalam 9th WFD RSA Youth Camp 2018 Cebu Filipina.

Acara itu adalah agenda rutin World Federation of the Deaf—Regional Secretariat for Asia (WFD RSA). Ia terpilih sebagai wakil Indonesia, setelah beragam kiprahnya mendorong insan tuli lebih percaya diri, berani menghadapi semua orang, dan memotivasi bahwa mereka bisa setara.

Terlepas dari agenda keorganisasian, balet adalah medium Mufi berkiprah. Melalui balet pula ia mengkreasikan bahasa isyarat yang artistik.

Memadukan balet dan bahasa isyarat, Mufi pernah berkolaborasi dengan sejumlah musikus, baik dalam klip video maupun konser.

Mufi terlibat dalam klip video musik seperti bersama Andien, band Trisouls, dan West Jamnation. Ia kali pertama ikut konser dalam Ismaya Live band Bara Suara.

Mufi saat pentas Ismaya Live band Bara Suara. [Instagram/Mufi]

Mufi saat pentas Ismaya Live band Bara Suara. [Instagram/Mufi]

Ada  tantangan tersendiri bagi Mufi dalam memadukan seni tari dan bahasa isyarat.

“Biasanya, aku menari dengan perasaan, lewat getaran dari nada. Tapi menari sembari berbahasa isyarat untuk menyampaikan pesan lirik lagu, itu sulit.”

Seperti ketika ia terlibat dalam klip video maupun konser duo West Jamnation dalam lagu berjudul “Sudah Terlambat”.

Pada pesta rilis “Sudah Terlambat” West Jamnation di Paviliun 28 Jakarta Selatan, Senin 12 Februari 2018 malam, Mufi yang berbusana terusan putih polos meliuk-liuk sembari menginterpretasikan lirik lagu melalui jemarinya.

“Lagu milik West jamnation itu liriknya sulit untuk diinterpretasikan melalui bahasa isyarat. Sebab, bait-baitnya kalau diterjemahkan dalam bahasa isyarat, justru berbeda jauh dengan maknanya sendiri,” terangnya.

Misalnya dalam bait lirik “sudah terlambat, tidak kuat”. Dalam bahasa isyarat, kalimat itu bermakna “datang terlambat, tidak lagi kuat berjalan”.

“Padahal maksud lirik itu adalah tentang orang yang mencintai tapi tak berbalas—diambil orang lain, maka tidak bisa ditahan hatinya atau patah hati.”

Selain menari, Mufi juga melakoni seni peran. Dia adalah aktris utama dalam film pendek berjudul ‘Toko Musik’.

Plot film berdurasi 17 menit itu mengisahkan seorang perempuan tuli bekerja di toko musik, yang bertemu gitaris dan ingin sekali memiliki gitar idamannya.

Pertautan keduanya di toko musik itu, menjelma sebagai jalan yang meretas tembok batasan-batasan komunikasi antara si tuli dan si dengar.

Dasar film itu lagi-lagi sebuah ironi, yakni si tuli bekerja di toko musik yang identik dengan nada, irama, dan pendengaran.

Sebagai karyawan toko musik dalam film tersebut, Mufi yang tuli harus berhadapan dengan sejumlah pembeli yang tidak mengetahui keterbatasannya.

Hasna Mufidah Bani Mostavan atau Mufi, saat berakting dalam film "Toko Musik". [Sedap Film]

Hasna Mufidah Bani Mostavan atau Mufi, saat berakting dalam film "Toko Musik". [Sedap Film]

Dalam film itu juga diceritakan, bagaimana Mufi yang ingin berbagi mengenai indahnya musik kepada orang-orang lain tapi dalam cara berbeda.

Film itu lantas mengungkapkan kontradiksi keseharian yang dialami para pekerja yang tuli: relasi kerja antara si tuli dengan majikan yang kerapkali melahirkan situasi tak menyenangkan.

Toko Musik adalah film untuk menginspirasi teman-teman tuli dan teman dengar, bagaimana cara untuk berkomunikasi. Kami ingin, teman-teman tuli bisa maju, tidak takut kalau mendapat pekerjaan,” terangnya.

Selama proses perekaman adegan, Mufi tak mengalami hambatan yang berarti. Bahkan, ia membantu memperbaiki sejumlah adegan untuk menyesuaikan jalan cerita. Ia bisa bekerja sama dengan kru film secara profesional.

“Karena saya satu-satunya tuli, jadi selama syuting masalah saya tidak ada. Lagipula saya dimentori teman tuli, untuk mengecek, agar saat ada komunikasi antara tuli dan dengar menjadi baik,” ujar dia.

Tuli Sejak Lahir

Kesenyapan itu bermula ketika Mufi berusia 6 bulan. Kala merangkak, ia dipanggil oleh papa dan mamanya. Tapi ia tak menoleh ke arah sumber suara.

Ayah dan ibunya lantas membawa Mufi kecil ke dokter, ternyata ia tuli. Menurut dokter, penyakit permanen itu timbul karena virus saat ia masih dalam kandungan mamanya.

Namun, sebagai seorang tuli, hidup di kota metropolitan seperti Jakarta tak sepenuhnya tenang dari hiduk pikuk.

Meski sunyi, Mufi mengakui masih agak mendengar suara bising seperti teriakan, sepeda motor yang mengebut, bahkan tangisan anak kecil.

Persoalan yang rumit baru ia temui ketika duduk di bangku kuliah. Kendala yang dihadapinya adalah terutama berkomunikasi dengan dosen dalam kelas. Sebab, belum ada fasilitas memadai bagi orang-orang tuli di kampus.

“Aku lebih banyak membaca buku dan membaca berkas presentasi dosen, karena fasilitas untuk teman tuli belum memadai,” tuturnya.

Setamat kuliah, Mufi mengakui tidak kesulitan mencari pekerjaan. Kuncinya adalah harus optimistis, seorang tuli harus bisa dan tidak boleh mengeluh.

Mufi menuturkan mencintai dan senang terhadap pekerjaan yang ia jalani sekarang sebagai desainer. Banyak pengalaman yang ia dapatkan di dunia kerjanya saat ini.

Sebagi tuli, ia juga pernah di-bully, diolok-olok bahwa tuli itu bodoh dan tidak bisa apa-apa. Namun ia tak memusingkan semua itu.

“Untuk teman tuli dan dengar, marilah kita belajar bahasa isyarat agar akses berkomunikasi menjadi mudah. Aku juga berharap teman-teman tuli jangan pernah takut, harus berani menghadapi tantangan, apa pun kalian bisa. Kalian, kita, setara.”

Motivasi seperti itu diperlukan bagi kaum tuli. Terutama di Jakarta, yang menurutnya masih diskriminatif terhadap penyandang disabilitas, khususnya bagi kaum tuli.

Selain di dunia nyata, Mufi juga merasakan masih adanya diskriminasi di bioskop-bioskop dan televisi. Film-film yang ditayangkan bioskop, misalnya, tak ada yang disertai teks.

“Stasiun televisi juga begitu. Walaupun sudah ada program yang menyediakan bahasa isyarat, tapi penempatannya terlalu kecil dan di pojok, terkadang sulit dipahami.”

Kedai Kopi Tuli. [Suara.com/Firsta Nodia]

Kedai Kopi Tuli. [Suara.com/Firsta Nodia]

***

Satu kedai kopi di daerah Duren Tiga, Jakarta Selatan, tampak lain dari gerai-gerai penyedia minuman berwarna hitam pekat itu: tenang, bahkan cenderung senyap.

Beberapa meja dalam kedai sudah terisi pengunjung yang asyik bercengkerama sembari menyeruput kopi, sedangkan barista tampak sibuk meracik.

Kedai itu bernama Kopi Tuli atau beken lewat akronimnya, Koptul. Semua pegawainya tuli, mulai dari barista, pelayan, dan kasirnya.

Koptul adalah kreasi perempuan tuli bernama Putri Santoso. Ia pula yang menjadi sosok inisiator Sampaguita Foundation.

“Aku investor di kedai Koptul ini, bersama Iman, temanku yang juga tuli. Ini adalah kedai kedua, yang pertama di daerah Depok, aku dirikan bersama Mohammad Adhika Prakoso serta Tri Erwinsyah Putra,” tuturnya.

Kala wawancara, Putri ditemani sang suami yang juga sesekali berperan sebagai penerjemah. Putri meminta setiap pertanyaan disampaikan dengan gerak mulut yang lebih terbuka. Sebab, ia bisa memahami bahasa dengan membaca gerak bibir.

Putri Santoso, Co-Founder kedai Kopi Tuli sekaligus inisiator Sampaguita Foundation. [Suara.com/Erick Tanjung]

Putri Santoso, Co-Founder kedai Kopi Tuli sekaligus inisiator Sampaguita Foundation. [Suara.com/Erick Tanjung]

Sarjana Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara ini mengakui, merintis usaha kedai Koptul karena susah mendapat pekerjaan di dunia industri.

Selain itu, ia juga berharap kedainya bisa memberi lapangan kerja bagi kaum tuli. Sebab, orang tuli selama ini kesulitan mencari pekerjaan lantaran soal berkomunikasi. 

“Koptul ini menjadi jawaban atas kekecewaan kami, yaitu sulit mendapatkan pekerjaan di perusahaan dan institusi lain. Melalui kedai ini, kami ingin membuktikan kemandirian,” tuturnya.

Kenapa kedai kopi? Bagi putri, kopi bisa menjadi medium komunikasi. “Sebab, orang yang suka kopi, biasanya senang mengobrol,” katanya.

Dalam kedai itu, pembeli—yang mayoritas pendengar—dan pelayan yang tuli bisa saling berinteraksi. Para pelayan selalu senang mengajarkan cara memakai bahasa isyarat.

“Jadi, ada sensasinya ngopi di Koptul,” tukasnya.

Lantai atas Koptul, digunakan Putri untuk membuka kursus bahasa isyarat. Pesertanya adalah si tuli dan si dengar.

Kursus bahasa isyarat berlangsung setiap hari Senin, Rabu dan Jumat pada pukul 19.00 WIB. “Pesertanya rata-rata teman-teman dengar. Satu kelas 15 orang.”

Putri memunyai cita-cita mengembangkan Koptul dengan membuka gerai di banyak tempat dan melebarkan usahanya pada bidang lain.

Tujuannya agar dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas bagi orang-orang tuli seperti dirinya.

Pada rentang periode pendek, Putri bercita-cita memberikan pelatihan-pelatihan barista dan kakery, serta menyosialisasikan bahasa isyarat ke beberapa sekolah umum.

Kedai Kopi Tuli. [Suara.com/Firsta Nodia]

Kedai Kopi Tuli. [Suara.com/Firsta Nodia]

Sementara targetnya untuk jangka menengah, bisa membuka kedai-kedai Koptul di Jabodetabek dan daerah lain.

“Target jangka panjang, aku ingin membuat rumah produksi,” ujarnya.

Kekecewaan dan Jalan Berdikari

Si tuli harus bisa berdikari, berdiri di kakinya sendiri alias mandiri, begitulah prinsip Adhika Prakoso. Lelaki muda itu adalah rekan sejawat Putri dalam merintis kedai Koptul.

"Kedai kopi kami ini baru dibuka pada 12 Mei 2018. Ini jawaban atas persoalan sulitnya mendapat pekerjaan yang layak hanya karena keterbatasan kami,” tutur Adhika kepada Firsta Nodia—jurnalis Suara.com.

Adhika mengakui, tak bisa mendapatkan pekerjaan di luar sana meski telah memasukkan lamaran kerja ke sedikitnya 200 perusahaan.

Semua berawal dari kecintaan Adhika terhadap kopi.  Ia bahkan pernah mengambil kursus singkat untuk belajar meramu dan mengelola bisnis kopi di Toffin.

"Belajar dan dapat mesinnya di Toffin. Satu minggu belajar. Jadi saya belajar mengoperasikan mesin pembuat kopi dan juga bisnisnya. Semua lebih mudah karena saya memang pecinta kopi, dan sudah punya dasar meramu kopi," ujar Adhika.

Mengobrol dan belajar isyarat di Kopi tuli (Suara.com/ Peter Rotti)

Mengobrol dan belajar isyarat di Kopi tuli (Suara.com/ Peter Rotti)

Dalam kedai Koptul, pengunjung tak hanya bisa menyeruput kopi, tapi juga mempelajari bahasa isyarat. Pada kemasan gelas kopi Kotpul, dibubuhi simbol Bisindo beserta abjad yang diwakili.

Dunia tuli dan dunia dengar sangat berbeda, sehingga Adhika berharap simbol Bisindo yang dibubuhkan pada gelas kopi bisa membuat mereka bertukar banyak informasi.

"Saya melihat pengunjung senang berkumpul dengan teman tuli karena dunia kami sangat berbeda. Ketika mereka menguasai Bisindo kami lebih mudah berbagi informasi," jelasnya.

Namun, Adhika mengakui ia dan teman-teman sekerjanya pernah kesulitan berkomunikasi dengan pengunjung yang mayoritas kaum pendengar, meski telah membubuhkan Bisindo pada gelas.

Adhika kembali bersiasat. Ia menyediakan menu minuman dengan simbol abjad A, B, C, D, E, F, G, H, I untuk mempermudah pengunjung ketika memesan.

Misalnya, ketika pengunjung mau memesan Kosu Koso alias Es Kopi Susu, maka hanya tinggal menyebutkan abjad A kepada pelayan.

"Kami juga bisa menggunakan kemampuan verbal atau dengan bantuan gestur tangan ketika pengunjung tidak bisa bahasa isyarat," tambah Adhika.

Ia berharap, semua pengunjung Koptul bisa menyesapi aroma kopi, mencecap cita rasa, dan juga menghargai perbincangan.

Berbicara, adalah cara paling purba bagi manusia sehingga bisa mengubah serta menundukkan dunia untuk kemajuan peradaban.

Karena itu pula, Adhika sengaja tidak menyediakan jaringan internet nirkabel alias WIFI.

"Di sini tak ada WIFI. Biar semua pure mengobrol.”

sumber :https://www.suara.com/news/2019/03/09/090016/bunyi-dalam-sunyi-sepotong-cerita-si-balerina-dan-peracik-kopi-tuli